Setelah tenggelamnya Fijilid1_1raun (Ramses II) di tengah-tengah penyerangan terhadap Bani Israel, anggota istana yang selamat dari tenggelam melakukan pengawetan jasad dan membawa peti mati dengan menggunakan perahu di sungai Nil menuju Kota Tibah (kota historis di Mesir) yang disertai perahu-perahu lain yang di dalamnya terdapat para rahib, para mentri, dan para pembesar kaum Firaun. Peti mati itu pun ditarik ke kuburan yang telah dipersiapkan oleh Rames II untuk dirinya di Lembah Raja.

Pada beberapa tahapan ini, doa-doa pun dibacakan dan upacara-upacara jenazah pun di selenggarakan. Dengan cara seperti itulah kehidupan Rames II berakhir. Ia merupakan Firaun terbesar, meskipun bukan yang terbesar secara mutlak. Karena ia mampu kembali pada pentas sejarah di masa kita sekarang ini.jilid1_2

Penjarahan kuil dan kuburan terus berlangsung dan kian menjadi-jadi. Banyak tuduhan diarahkan pada Bupati Tibah Barat, kepala kepolisian, dan penanggung jawab keamanan kuburan-kuburan itu. Para penanggung jawab itu pun di hukum. Informasi ini dikomodifikasi di papirus yang terdapat di Museum Inggris. Namun, pencurian tetap saja berlanjut. Kepala Rahib Amun memutuskan untuk menjaga jasad para Firaun, termasuk jasad Ramses II. Jasad dibungkus dengan kafan bagian luar yang baru dan diletakkan di peti dari kayu yang sederhana untuk mengelabui para pencuri. Ia dikuburkan di kuburan ayahnya, Seti I, bersama kelompok jasad para Firaun terdahulu. Pristiwa itu terjadi pada tanggal 15, bulan ketiga, tahun 24 berdasarkan perhitungan tanggal Ramses XI. Bila Ramses XI yang merupakan Firaun terakhir dari dinasti XX dan memerintah selama 27 tahun, maka tahun peristiwa pengafanan dan penguburan kembali Ramses II terjadi pada tahun 1089 (127 tahun setelah kematiannya).

Posisi Informasi Alquran

jilid1_3

Orang yang mengetahui Firaun tenggelam setelah menyerang Bani Israel, akan meyakini bahwa Musa berada di jalan yang benar, sementara Firaun di jalan yang batil. Setelah tenggelam, orang-orang istana dan para rahib yang melakukan pemuliaan terhadap jasadnya. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَفِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

“(Ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kalian dan kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya ketika itukalian sendiri menyaksikan,” (QS Al-Baqarah [2]: 50).

Sampai di sini, peristiwa tenggelamnya Firaun menjadi satu bukti kekuasaan Allah, bahkan jika jasadnya tidak ditemukan. Firaun yang sombong, angkuh, suka menyiksa, dan suka merendahkan itu telah tenggelam. Kita pun menjadi tahu makna Firman Allah Swt berikut:

 

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَلِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَالَغَافِلُونَ

“Pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami,” (QS Yunus[10]:92).

Kita harus tahu pelajaran yang ditujukan kepada kita. Kita pun harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang menimpa badan Firaun yang diselamatkan Allah itu.

Sumber :
– Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis –
(Kemukjizatan Fakta Sejarah)