Untuk menjadi seorang yang efektif dalam mengatur waktu, kita memang harus adil dalam membaginya. Ada hak untuk belajar, hak membantu orang tua, hak untuk beribadah, hak untuk peningkatan kemampuan diri, hak untuk melakukan evaluasi, hak untuk beristirahat, hak untuk melakukan rekreasi; semua harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar, misalnya, tetapi tanpa dibarengi dengan istirahat, bahkan tanpa diiringi dengan mantapnya ibadah kepada Allah, semua itu hanya menunggu waktu yang suatu saat akan menjadi bumerang yang berbalik menyerang kita.

waktu

Karenanya, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Faidzaa faraghta fashab. Wa ilaa rabbika farghab!” (Q.S. Alam Nasyrah [94]: 7-8).

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka, sudah seharusnya dia membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah dua jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berati 6 x 2 = 12 jam per minggu dan satu bulan ada sekitar 48 jam. Jadi dalam tiga bulan dia sudah harus belajar sekitar 144 jam. Lalu mata kuliahnya ada 10, satu mata kuliah rata-rata lima bab, berati 50 bab. Satu bab ada 10 halaman (50 x 10 = 500 halaman). Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Berati satu jam kita harus menguasai minimal tiga lembar. Jadi kuncinya adalah petakan dulu potensi dan masalahnya, kemudian bekerjalah secara stabil dengan peta itu.

Namun, tentu saja jangan cuma membuat perencanaan tanpa melatih kedisiplinan untuk menjalankannya. Betapa banyak orang yang hanya pandai membuat rencana. Dan sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Si rencana itu sendiri harus proposional agar mudah menjalankannya.

Sumber : Demi Masa (Menggenggam Waktu, Meraih Keunggulan Diri) KH. Abdullah Gymnastiar