Ketika seseorang sedang berpuasa terdapat dua kekuatan yang tarik menarik: kekuatan rohani dan kekuatan jasad. Kekuatan jasad adalah kekuatan pokok dalam pembentukan manusia yang mampu menggerakkan aktivitas manusia sekaligus berdekatan dengan kekuatan rohani. Kekuatan rohani sendiri merupakan kekuatan yang dapat membaca kekuatan jasmani. Berdasarkan kenyataan tersebut maka ada beberapa kewajiban yang tidak diwajibkan kepada anak-anak kecil, kecuali ketika ia telah sampai pada usia dewasa.

Kekuatan rohani inilah yang merupakan keturunan dari syariat langit maupun syariat bumi, buatan manusia. Pada dasarnya, keinginan kita didasari atas pengorbanan keinginan fisik. Karenanya, ketika seseorang menyendiri, maka ia akan cenderung memenuhi keinginan tubuhnya.

Pada gilirannya, ia akan terlepas dari ikatan-ikatan syariat buatan manusia (hukum positif).

Dengan demikian, seseorang yang sedang melaksanakan puasa akan selalu meneliti dirinya, selalu memenuhi panggilan kekuatan rohani, yang sesuai dengan cara keinginan fisik. Selanjutnya, ia dapat menikmati puasanya dan sekaligus akan dapat menguatkan sifat amanah, yang merupakan penopang utama kepribadian Rasulullah Saw. Oleh sebab itulah, Nabi kemudian diberi gelar “Al-Amin” (Yang Tepercaya).

Seseorang yang melaksanakan ibadah puasa sesungguhnya ia sedang melawan keinginan dari hawa nafsunya sendiri dengan penuh kesetiaan, secara sukarela, tanpa ada yang mendorong, dan tanpa pengawas. Dengan memiliki beberapa hal inilah, akan tampak penopang lain dari suatu kepribadian yang kuat. Penopang itu bernama pengorbanan. Ini terlihat ketika seseorang itu mengendalikan dorongan hawa nafsunya dan keinginan-keinginannya yang berada di depan matanya. Ia akan senantiasa memenuhi panggilan kebenaran dalam keadaan taat kepada Tuhannya dengan sukarela dan penuh kepatuhan.

Pada akhirnya, seorang yang sedang berpuasa memiliki sifat-sifat amanah dan rela berkorban. Seseorang yang selalu memerhatikan kualitas puasanya, maka pasti akan meninggalkan ajakan-ajakan dan keinginan-keinginan fisiknya. Ia juga tidak berlindung di balik keinginan dan ajakan itu kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja. Puasa sendiri merupakan olahraga pertama bagi para ahli ibadah, orang-orang yang zuhud, dan orang-orang yang telah mencapai pintu-pintu Tuhan.

Karenanya, pada saat ada tuntutan hati yang berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka puasa akan menjadi percikan sinar bagi rohani dan sekaligus menjadi makanan rohani, untuk selanjutnya ia akan memenuhi semua ajakan yang bersumber dari rohaninya sendiri.

Puasa juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan taraf kehidupan, baik yang duniawi maupun yang ukhrawi. Karena posisi puasa telah diketahui di setiap syariah dan agama, Allah SWT menyandarkan puasa kepada Zat-Nya. Ini seperti dapat ditemui pada hadis Qudsi berikut: “Semua amal anak Adam itu untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Karena puasa itu dikerjakan untuk-Ku, maka Aku-lah yang akan memberi balasannya.”

Dengan demikian, puasa telah menjadi penopang utama dalam pembentukan kepribadian manusia. yang kuat. Orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS Al-Baqarah [2] 183).

– Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis –
( Kemukjizatan Psikoterapi Islam | Jilid 4 )