Diriwayatkan dari Syadad bin Uwes bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Allah telah mewajibkan berlaku baik (ihsan) atas segala sesuatu. Karenanya, jika kalian membunuh (hewan), hendaklah berlaku ihsan di dalam melakukanya. Apabila kalian menyembelih, maka berlaku baiklah di dalam penyembelihan. Bila menyembelih, menyembelihlah sebaik mungkin dan pertajamlah mata pisaunya,” (HR. Muslim).

Idul-Adha-Hari-Raya-Kurban
Islam mengajarkan sifat lemah lembut di dalam segala hal dan tidak mengajarkan perbuatan yang mengarah kepada kekerasan atau kekejian, baik di masa lampau maupun masa kini, yang selalu dituduhkan oleh kelompok yang membenci Islam.

Allah Swt tidak menyukai hambanya yang memakan hewan yang tidak disebutkan nama-Nya dalam penyembelihan, disamping untuk melindungi kesehatan manusia dan menghormati hewan. Sejumlah perusahaan di beberapa negara menyembelih hewan ternak untuk dikonsumsi, tetapi cara penyembelihannya tidak sesuai dengan ajaran syariat Islam, sehingga tidak boleh dikonsumsi. Siapapun yang hendak makan daging sembelihan, hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah Swt.

Untuk kesempurnaan cara penyembelihan, yang harus dilakukan adalah dengan mengikat ujung kepala binatang kemudian melakukan pemotongan pada empat bagian sekitar leher, yaitu pemotongan pembuluh darah urat leher (jagular V), pembuluh nadi leher (Carotid A), tenggorokan, dan saluran pernapasan yang gunanya untuk membersihkan darah.

Mungkin dirangkum perbedaan dua cara tersebut. Ada cara menyembelih hewan ternak yang tidak disebutkan oleh orang-orang barat di dalam buku-buku mereka. Cara itu adalah menghadap kiblat saat menyembelih. Sedangkan tata cara orang Yahudi menyembelih hewan yaitu menggunakan gir yang tajam, harus ada pendeta yang menyaksikan dan membentangkan hewan sembelihan guna meniriskan darahnya hingga tetes terakhir. Orang Yahudi tidak menggunakan pisau dalam penyembelihan.

Cara mereka berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam menyembelih hewan. Rasulullah Saw menganjurkan merawat dan memperlakukan dengan baik hewan sebelum disembelih. Hal itu bertujuan untuk menggembirakan hewan sembelihan. Selain itu, hewan tersebut tidak boleh diperlihatkan pisau, darah, dan hewan yang sudah disembelih di depan matanya. Sebelum disembelih, hewan itu harus diberi makan, minum dan diperlakukan dengan baik. Namun di sisi lain, banyak terjadi perlakuan tidak layak terhadap hewan sembelihan di rumah-rumah jagal, khususnya di Barat.

Mereka mematikan hewan itu dengan sengatan listrik, pembiusan, pemukulan dengan benda tumpul, penghancuran kepala, otak kecil, dan tengkorak belakang dengan benda tajam. Hasil penelitian ilmiah menyebutkan bahwa hormon rasa takut (khususnya adrenalin) hewan sembelihan dapat merusak rasa dagingnya setelah disembelih. Sebaliknya, perawatan hewan dan menghibur hewan sembelihan dapat mengembalikan hormon tersebut ke tempatnya. Selain itu juga, hewan sembelihan dapat mengerahkan seluruh kekuatanya saat disembelih karena pendarahan dan keluarnya roh yang diiringi dengan tirisnya seluruh darah akibat disembelih dagingnya pun menjadi padat.

Penelitian ilmiah Barat tidak ada yang mengatakan bahwa penyembelihan dengan cara Islami itu menyakiti hewan, bahkan mereka mengatakan bahwa cara-cara penyembelihan Barat di rumah-rumah jagal harus dihentikan. Hewan-hewan yang disembelih di rumah jagal, seperti anjing, sapi, atau babi, dilakukan dengan menyengat listrik setelah itu baru dicincang.

Sumber :
Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis
(  KEMUKJIZATAN PENCIPTAAN HEWAN | Jilid 5 )