Dalam kehidupan ini, manusia pasti sering mengalami berbagai macam situasi yang menunjukkan ketidak berdayaannya dan kebutuhannya kepada Allah Swt. Di antara situasi itu adalah adanya berbagai penyakit dan penderitaan yang terkadang menimpa manusia, baik yang bersifat fisik maupun psikis.

Kendati disebabkan oleh berbagai macam faktor, baik fisik maupun psikis, namun bagaimanapun juga adanya penyakit tersebut merupakan perkara yang telah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah. Di balik takdir dan ketetapan itu tentulah tersimpan suatu hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya. Penyakit itu bisa jadi ditimpakan sebagai ujian dan cobaan terhadap keyakinan dan sikap rida seorang hamba. Atau, untuk menyelidiki kesabaran dan keteguhan seorang hamba dalam memikul beban yang menimpanya. Terkadang pula, penyakit itu merupakan bukti bahwa Allah Swt rida dan cinta kepada seseorang serta sebagai pembersih dari dosa-dosa yang telah ia lakukan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya pernah bersabda :
“Sesungguhnya besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya ujian. Sesungguhya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida atas ujian itu berhak mendapatkan rida Allah dan siapa yang murka atas ujian itu maka juga akan mendapatkan kemurkaan Allah. (HR. Tirmizi).

Al-Qur’an sebagai Obat

Al-Qur’an  adalah  firman  Allah  Swt, merupakan mukjizat, diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir dengan perantaraan Malaikat Jibril, tertulis di dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir, dimulai dengan surat Al-Fatihah, diakhiri dengan surat An-Nas, dan membacanya adalah ibadah.
Al-Qur’an mengandung keterangan dan penjelasan yang tegas tentang kebenaran dan kebatilan. Al-Qur’an mempunyai banyak fungsi bagi kaum muslimin, diantaranya adalah sebagai syifa’ atau obat bagi penyakit yang ada di dalam dada sebagaimana dalam firman Allah Swt:

“Wahai manusia sungguh telah datang kepadamu  pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus [10]: 57).

Al-Qur’an merupakan obat bagi penyakit yang bersifat hakiki yang menimpa badan dan penyakit yang sifatnya maknawi yang menimpa hati. Al-Qur’an merupakan obat bagi penyakit badan, dengan cara membacakannya untuk orang yang sakit atau terkena hipnotis, kesurupan jin, dan semisalnya.

Dengan izin Allah Swt, orang yang sakit akan menjadi sembuh jika bacaan tersebut berasal dari hati seorang mukmin yang yakin kepada-Nya. Apabila keyakinan yang kuat berkumpul antara orang yang membacakannya dengan yang di bacakan untuknya maka Allah akan memberikan kesembuhan bagi si sakit.

Al-Qur’an juga merupakan obat bagi penyakit maknawi, seperti penyakit syak atau keraguan, syubhat, kufur, dan nifaq. Penyakit hati lebih berbahaya dari pada penyakit badan karena penyakit badan ujungnya adalah mati sedangkan mati itu pasti terjadi dan tidak mungkin dapat ditolak. Sementara itu, penyakit hati jika dibiarkan terus menerus maka akan menyebabkan matinya hati. Hati akan rusak secara total sehingga si empunya hati menjadi seorang kafir, condong kepada keburukan, dan kefasikan. Penyakit hati seperti itu tidak ada obatnya selain Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah Swt.

Penyakit Hati
Diantara  tanda  sakitnya  hati  adalah berpaling dari “makanan” yang bermanfaat dan justru cenderung kepada yang mendatangkan mudarat, juga dari obat yang berguna dan cenderung kepada penyakit yang berbahaya. Adapun hati yang sehat adalah hati yang selalu mengutamakan “makanan” yang bermanfaat, bukan ”racun” yang mematikan. Makanan yang paling baik bagi hati adalah banyak berzikir kepada Allah Swt dan memerbanyak membaca Al-Qur’an.

Penyakit Jasmani
Sesungguhnya  Allah  Swt  tidaklah menurunkan suatu penyakit kecuali juga menurunkan penawarnya. Oleh karena itu, dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw memerintahkan umatnya untuk berobat sebagaimana dalam sebuah hadis:
“Berobatlah kalian! Sesunggunya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit tanpa menurunkan pula obatnya kecuali satu, yaitu pikun.” (HR Abu Dawud, At-Tirmizy dan Ibnu Majah).

‘‘Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’ [17]: 82).

Sumber :
– Ensiklopedia Mukjizat Al-Quran dan Hadis –
( Kemukjizatan Pengobatan dan Makanan | Jilid 3 )